Selasa, 03 November 2015

Prejudice

Nama Kelompok
Dannis / 705140002
Michael / 705140010
Hendra / 705140045
Darien / 705140142
Kelvin Hosea / 705140133

Komunikasi antar budaya etnis tionghoa dan pribumi di kota medan
Sumber : jurnal ilmu komunikasi, volume 10, nomor 1, 2012, hal. 13-27

            Perbedaan Budaya yang terjadi di kota Medan seringkali terjadi pada etnis Tionghoa dengan pribumi. Kedua etnis ini merupakan dua etnis mayoritas yang ada di kota Medan. Hal ini menimbulkan beberapa perbedaan yang menyebabkan terjadinya diskriminasi. Perbedaan yang paling mendasar sebenarnya adalah perbedaan agama dan kepercayaan, nilai-nilai, perilaku yang dapat dianut oleh setiap masing-masing etnis. Diskriminasi sudah terjadi sejak lama, namun puncak terjadinya diskriminasi adalah pada saat kerusuhan Mei 1998 ketika etnis tionghoa merasa terancam keberadaannya. Diskriminasi yang terjadi saat ini dapat disebabkan oleh agama dan kepercayaan. Etnis Tionghoa dan pribumi memiliki perbedaan yang sangat mencolok yaitu etnis Tionghoa mayoritas memeluk agama budha atau kristen, sedangkan etnis pribumi mayoritas beragama muslim. Perbedaan agama inilah yang mempengaruhi pandangan antar etnis.
            Hal lain yang menyebabkan diskriminasi adalah nilai-nilai yang berlaku pada masing-masing etnis. Perbedaan nilai dapat terlihat dari etos kerja yang berbeda dari kedua etnis. Pada etnis Tionghoa, mereka merupakan pekerja keras yang juga keras kepala. Etnis Tionhoa pantang dengan kata masal dan bersantai-santai. Sementara pribumi terlihat lebih santai dan agak bermalas-malasan terutama ketika sudah mempunyai banyak uang. Perbedaan nilai ini menyebabkan adanya perbedaan kepentingan yang menyebabkan kedua etnis sulit untuk melebur.
            Diskriminasi juga dapat terlihat dalam perilaku kedua etnis. Pada etnis Tionghoa, kebanyakan akan berperilaku dan berkata-kata kasar kepada etnis pribumi. EtnisTionghoa cenderung menganggap etnis pribumi berpikiran sempit, malas, dan bodoh. Mereka juga hanya mau berkelompok dengan mereka yang memiliki etnis yang sama. Begitupun pada etnis pribumi, yang hanya mau bekerja dan berkelompok dengan etnis atau kaum pribumi.
            Diskriminasi diatas dapat dijelaskan berdasarkan teori pada buku Myers, yaitu racism. Teori ini menyatakan bahwa individu memberi prasangka terhadap sikap dan perilaku yang ada pada RAS tertentu. Pada jurnal diatas menjelaskan bahwa prasangka muncul dari etnis Tionghoa terhadap pribumi dan begitupun sebaliknya. Sebagai contoh, dalam suatu keluarga beretnis Tionghoa memiliki salah satu anggota keluarga yang menikah dengan wanita pribumi. Hal tersebut menyebabkan anggota keluarga tersebut berpindah agama menjadi seorang muslim sehingga keluarga besar mengucilkannya. Hal tersebut tergolong sebagai salah satu contoh racism karena melibatkan agama untuk membeda-bedakan. Selain itu, automatic prejudice adalah saat seseorang langsung memberikan prasangka pada seseorang meskipun belum ada interasksi. Etnis Tionghoa maupun pribumi langsung memberikan prasangka yang cenderung negatif satu sama lain. Hal ini dapat di tempat kerja, pada keluarga Tionghoa yang menikah dengan pribumi. Ketika dalam suatu tempat kerja terdapat atasan beretnis Tionghoa, seringkali terjadi diskriminasi terhadap karyawan pribumi. Automatic prejudice akan timbul terhadap karyawan pribumi karena adanya perbedaan RAS sehingga tidak menutup kemungkinan adanya perbedaan perlakuan dari atasan terhadap karyawan.
            Menurut teori social dominance orientation, diskriminasi dapat terjadi karena adanya kecenderungan kelompok sosial untuk mendominasi kelompok sosial lainnya. Pandangan ini melihat masyarakat sebagai suatu hirarki sehingga mereka cenderung ingin berada pada puncak hirarki tersebut. Etnis Tionghoa yang melakukan diskriminasi di tempat kerja karena ia mendukung etnisnya selalu sendiri agar dapat mendominasi. Mereka akan mendukung etnis mereka sendiri dengan memberikan perlakuan yang lebih baik, lebih ramah, bahkan adanya perbedaan gaji terhadap karyawan yang memiliki etnis yang sama sehingga dapat mendukung kelompok sosial mereka sendiri untuk berkembang.
Pandangan yang melihat bahwa seseorang adalah bagian dari suatu kelompok disebut dengan in-group. Sedangkan, perilaku melihat bahwa orang lain bukan bagian dari kelompoknya disebut out-group. Pada etnis Tionghoa dan pribumi masing-masing melihat orang yang bukan etnisnya sebagai out-group sehingga masyarakat di kota Medan menjadi dibeda-bedakan, bukan suatu kesatuan. Hal tersebut merupakan penyebab diskriminasi yang mungkin akan menimbulkan terjadinya perpecahan kelompok sosial di masyarakat Indonesia karena mengganggap dirinya maupun kelompoknya berbeda dengan kelompok lain.

Saran :
-       Sejak kecil, setiap anak sudah harus ditanamkan rasa persatuan meskipun terjadi perbedaan.
-       Orangtua tidak boleh memberikan stereotype yang negatif terhadap suatu RAS, etnis, dan budaya tertentu.
-       Penanaman agama tidak boleh terlalu fanatik terhadap anak sehingga anak tidak menjadi seorang individu yang membeda-bedakan diri dengan temannya yang memiliki agama yang berbeda
-       Mulai berusaha berbaur dengan orang lain meskipun orang tersebut bukan berasal dari kelompok kita sendiri. Mis; kelompok untuk mengerjakan tugas kelompok, dll

-       Mengubah stereotip-stereotip negatif yang ada di masyarakat. Mis: stereotip kalau orang tionghoa selalu mencari untung saja dalam suatu hubungan.