Tugas kami pada field trip kali ini adalah untuk mewawancara para pedagang di Kampung Betawi, tepatnya di Setubabakan. Berikut adalah hasil kegiatan dan wawancara kami selama di perumahan Setubabakan.
Minggu, 05 Oktober 2014
Eksistensialisme menurut John Paul Sartre
Pemikiran Filsafat Sartre
Manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Untuk manusia bereksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.
Asas pertama untuk memahami manusia adalah kita harus mendekatinya sebagai subjektivitas.
Eksistensialisme Menurut Kierkegaard
Eksistensialisme
Adalah aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara berada manusia yang khas di tengah makhluk lainnya. Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi.
Berasal dari 2 kata, Ex = keluar dan sistensia (sistere) = berdiri.
Manusia bereksistensi berarti manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya.
Pusat manusia berada diluar diri manusia.
Hanya manusia yang bereksistensi. Eksistensi tidak sama dengan berada.
Pohon, anjing, dan hewan/tanaman tidak bereksistensi, mereka hanya berada.
Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuan, tapi lebih merupakan gaya berfilsafat.
Filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi
Pengetahuan dan Intelegensi Manusia
Knowledge (Pengetahuan)
Pengetahuan merupakan nilai bagi makhluk yang mempunyainya naik bagi manusia, malaikat, ataupun binatang, pengetahuan adalah suatu kekayaan dan kesempurnaan. Pengetahuan kita adalah sekaligus inderawi dan intelektif. Ia dikatakan inderawi lahir atau luar kalau ia mencapai secara langsung, melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Ia dikatakan inderawi batin ketika ia memperlihatkan pada kita, dengan ingatan dan khayalan, baik apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauan kita.
Langganan:
Postingan (Atom)

