Nama Kelompok
Dannis /
705140002
Michael /
705140010
Hendra /
705140045
Darien /
705140142
Kelvin Hosea /
705140133
Komunikasi
antar budaya etnis tionghoa dan pribumi di kota medan
Sumber
: jurnal ilmu komunikasi, volume 10, nomor 1, 2012, hal. 13-27
Perbedaan Budaya yang terjadi di
kota Medan seringkali terjadi pada etnis Tionghoa dengan pribumi. Kedua etnis
ini merupakan dua etnis mayoritas yang ada di kota Medan. Hal ini menimbulkan
beberapa perbedaan yang menyebabkan terjadinya diskriminasi. Perbedaan yang
paling mendasar sebenarnya adalah perbedaan agama dan kepercayaan, nilai-nilai,
perilaku yang dapat dianut oleh setiap masing-masing etnis. Diskriminasi sudah
terjadi sejak lama, namun puncak terjadinya diskriminasi adalah pada saat
kerusuhan Mei 1998 ketika etnis tionghoa merasa terancam keberadaannya.
Diskriminasi yang terjadi saat ini dapat disebabkan oleh agama dan kepercayaan.
Etnis Tionghoa dan pribumi memiliki perbedaan yang sangat mencolok yaitu etnis
Tionghoa mayoritas memeluk agama budha atau kristen, sedangkan etnis pribumi
mayoritas beragama muslim. Perbedaan agama inilah yang mempengaruhi pandangan
antar etnis.
Hal lain yang menyebabkan
diskriminasi adalah nilai-nilai yang berlaku pada masing-masing etnis.
Perbedaan nilai dapat terlihat dari etos kerja yang berbeda dari kedua etnis.
Pada etnis Tionghoa, mereka merupakan pekerja keras yang juga keras kepala.
Etnis Tionhoa pantang dengan kata masal dan bersantai-santai. Sementara pribumi
terlihat lebih santai dan agak bermalas-malasan terutama ketika sudah mempunyai
banyak uang. Perbedaan nilai ini menyebabkan adanya perbedaan kepentingan yang
menyebabkan kedua etnis sulit untuk melebur.
Diskriminasi juga dapat terlihat
dalam perilaku kedua etnis. Pada etnis Tionghoa, kebanyakan akan berperilaku
dan berkata-kata kasar kepada etnis pribumi. EtnisTionghoa cenderung menganggap
etnis pribumi berpikiran sempit, malas, dan bodoh. Mereka juga hanya mau
berkelompok dengan mereka yang memiliki etnis yang sama. Begitupun pada etnis
pribumi, yang hanya mau bekerja dan berkelompok dengan etnis atau kaum pribumi.
Diskriminasi diatas dapat dijelaskan
berdasarkan teori pada buku Myers, yaitu racism.
Teori ini menyatakan bahwa individu memberi prasangka terhadap sikap dan
perilaku yang ada pada RAS tertentu. Pada jurnal diatas menjelaskan bahwa
prasangka muncul dari etnis Tionghoa terhadap pribumi dan begitupun sebaliknya.
Sebagai contoh, dalam suatu keluarga beretnis Tionghoa memiliki salah satu
anggota keluarga yang menikah dengan wanita pribumi. Hal tersebut menyebabkan
anggota keluarga tersebut berpindah agama menjadi seorang muslim sehingga
keluarga besar mengucilkannya. Hal tersebut tergolong sebagai salah satu contoh
racism karena melibatkan agama untuk
membeda-bedakan. Selain itu, automatic prejudice adalah saat seseorang langsung
memberikan prasangka pada seseorang meskipun belum ada interasksi. Etnis
Tionghoa maupun pribumi langsung memberikan prasangka yang cenderung negatif
satu sama lain. Hal ini dapat di tempat kerja, pada keluarga Tionghoa yang
menikah dengan pribumi. Ketika dalam suatu tempat kerja terdapat atasan
beretnis Tionghoa, seringkali terjadi diskriminasi terhadap karyawan pribumi. Automatic prejudice akan timbul terhadap
karyawan pribumi karena adanya perbedaan RAS sehingga tidak menutup kemungkinan
adanya perbedaan perlakuan dari atasan terhadap karyawan.
Menurut teori social dominance orientation, diskriminasi dapat terjadi karena
adanya kecenderungan kelompok sosial untuk mendominasi kelompok sosial lainnya.
Pandangan ini melihat masyarakat sebagai suatu hirarki sehingga mereka
cenderung ingin berada pada puncak hirarki tersebut. Etnis Tionghoa yang
melakukan diskriminasi di tempat kerja karena ia mendukung etnisnya selalu
sendiri agar dapat mendominasi. Mereka akan mendukung etnis mereka sendiri
dengan memberikan perlakuan yang lebih baik, lebih ramah, bahkan adanya
perbedaan gaji terhadap karyawan yang memiliki etnis yang sama sehingga dapat
mendukung kelompok sosial mereka sendiri untuk berkembang.
Pandangan
yang melihat bahwa seseorang adalah bagian dari suatu kelompok disebut dengan in-group. Sedangkan, perilaku melihat
bahwa orang lain bukan bagian dari kelompoknya disebut out-group. Pada etnis Tionghoa dan pribumi masing-masing melihat
orang yang bukan etnisnya sebagai out-group
sehingga masyarakat di kota Medan menjadi dibeda-bedakan, bukan suatu kesatuan.
Hal tersebut merupakan penyebab diskriminasi yang mungkin akan menimbulkan
terjadinya perpecahan kelompok sosial di masyarakat Indonesia karena
mengganggap dirinya maupun kelompoknya berbeda dengan kelompok lain.
Saran :
-
Sejak
kecil, setiap anak sudah harus ditanamkan rasa persatuan meskipun terjadi
perbedaan.
-
Orangtua
tidak boleh memberikan stereotype yang negatif terhadap suatu RAS, etnis, dan
budaya tertentu.
-
Penanaman
agama tidak boleh terlalu fanatik terhadap anak sehingga anak tidak menjadi
seorang individu yang membeda-bedakan diri dengan temannya yang memiliki agama
yang berbeda
-
Mulai
berusaha berbaur dengan orang lain meskipun orang tersebut bukan berasal dari
kelompok kita sendiri. Mis; kelompok untuk mengerjakan tugas kelompok, dll
-
Mengubah
stereotip-stereotip negatif yang ada di masyarakat. Mis: stereotip kalau orang
tionghoa selalu mencari untung saja dalam suatu hubungan.

