Bullying di
Lingkungan Sekolah
Pengertian Bullying
Bullying menurut kamus Webster’s
New World College Dictionary. Bully, menurut kamus Webster’s New World
College Dictionary (1996), yaitu a person who hurts, frightens, or
tyrannizes over those who are smaller or weaker (h. 184).
Bullying menurut ahli di KPA. “Bullying adalah
kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau
kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi
dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang atau membuat orang
tertekan, trauma/depresi dan tidak berdaya” (KPAI, dikutip dalam Ardi, 2009).
Bullying menurut psikologi. Olweus, dikutip dalam (Pohan, 2011) mengatakan
“Bullying is a specific form of
aggressive behavior and can be described as a situation when a student is
exposed repeatedly and over time, to negative actions on the part of one or
more students” (h. 7).
Bullying
menurut psikologi pendidikan. Juvonen, Nishina, & Graham, 2000;
Pellegrini & Bartini, 2000; San Antonio & Salzfass, 2007; yang dikutip
dalam Slavin (2012) mengatakan bahwa bullying
adalah “Taunting, harassment, and
aggression toward weaker or friendless peers occur at all age levels, but can
become particularly serious as children enter early adolescence” (h. 71).
Penyebab Bullying
Dari pihak
pelaku. Colorosa yang dikutip
dalam Ubaydiillah (2008) mengatakan,
Ada
8 ciri anak yang dapat menjadi pelaku, antara lain (a) suka mendominasi anak
lain, (b) suka memanfaatkan anak, (c) sulit melihat situasi dari titik pandang
anak lain, (d) hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, (e) cenderung
melukai anak lain di sekitar mereka, (f) memandang saudara-saudara atau
rekan-rekan yang lebih lemah sebagai sasaran, (g) tidak bertanggung jawab atas
tindakannya, (h) bersikap masa bodoh terhadap akibat dari perbuatannya, dan (i)
haus perhatian.
Dari
pihak korban. Colorosa yang
dikutip dalam Ubaydillah (2008) mengatakan,
Ada
19 ciri anak yang dapat menjadi korban, antara lain (a) anak baru di lingkungan
itu, (b) anak paling kecil di sekolah, (c) anak yang pernah mengalami trauma
sehingga sering menghindar karena rasa takut, (d) anak yang cemas, kurang
percaya diri, atau anak yang melakukan sesuatu karena takut dibenci atau ingin
menyenangkan, (e) anak yang dianggap mengganggu orang lain, (f) anak yang suka
mengalah, (g) anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau
menarik perhatian orang lain, (h) anak yang paling miskin atau paling kaya, (i)
anak yang ras atau etnisnya dipandang rendah, (j) anak yang orientasi gender atau
seksualnya dipandang rendah, (k) anak yang agamanya dipandang rendah, (l) anak
yang cerdas, berbakat, memiliki kelebihan atau beda dari yang lain, (m) anak
yang tidak memedulikan status sosial, dan tidak berkompromi dengan norma-norma,
(n) anak yang siap mendemontrasikan emosinya setiap waktu, (o) anak yang gemuk
atau kurus, pendek atau jangkung, (p) anak yang berkawat gigi atau berkacamata,
(q) anak yang berjerawat , (r) anak yang memiliki kecacatan fisik atau keterbelakangan
mental, dan (s) anak yang bernasib buruk.
Dampak Bullying
Terhadap
pelaku. Coloroso (2006:72)
yang dikutip dalam Ardi (2012) mengungkapkan,
Siswa
akan terperangkap dalam peran pelaku bullying,
tidak dapat mengembangkan hubungan yang sehat, kurang mampu memandang dari perspektif
lain, tidak memiliki empati, serta menganggap bahwa dirinya kuat dan disukai
sehingga dapat mempengaruhi pola hubungan sosialnya di masa yang akan datang. Dengan
melakukan bullying, pelaku akan
beranggapan bahwa mereka memiliki kekuasaan terhadap keadaan. Jika dibiarkan
terus-menerus tanpa intervensi, perilaku bullying
ini dapat menyebabkan terbentuknya perilaku lain berupa kekerasan terhadap anak
dan perilaku kriminal lainnya.
Terhadap
korban. Penelitian Banks
(1993, dalam Northwest Regional Educational Laboratory, 2001; dan dalam Anesty,
2009) yang dikutip dalam Ardi (2012) menungkapkan,
Perilaku
bullying berkontribusi terhadap
rendahnya tingkat kehadiran siswa di sekolahnya, rendahnya prestasi akademik
siswa, rendahnya percaya diri, tingginya depresi, tingginya tingkat kenakalan
remaja, penurunan skor tes kecerdasan (IQ) dan kemampuan analisis siswa. Bila bullying berlanjut dalam jangka waktu
yang lama, dapat mempengaruhi self-esteem
siswa, memunculkan perilaku menarik diri, menjadikan remaja rentan terhadap
stress dan depresi, serta rasa tidak aman. Dalam kasus yang lebih ekstrim, bullying dapat mengakibatkan remaja
berbuat nekat, bahkan bisa membunuh atau bunuh diri.
Cara Mengatasi Bullying
di Sekolah
Mengatasi
kebiasaan pelaku. Emmer
& Everston, 2009; Levin & Nolan, 2010; Murawski, Lockwood, Khalili,
& Johnston, 2010; Olweus & Limber 1999; yang dikutip dalam Slavin
(2012, h. 346) mengatakan,
Ada beberapa
cara untuk mengatasi bullying, yaitu (a) mengembangkan dan mempublikasikan
kebijakan anti-bullying di sekolah, (b) memberikan punyuluhan dan pendidikan
tentang bullying dan efek negatif nya
kepada siswa, (c) memberikan pelatihan tentang keterampilan sosial dan
mengenali siswa yang terlibat dalam aktivitas prososial, (d) memonitor lokasi
dan kegiatan dimana intimidasi atau ancaman sering terjadi, dan (e) memberikan
konsekuensi untuk perilaku bullying.
Mengatasi efek trauma pada korban. Winch yang dikutip dalam Virgianti (2013) mengatakan,
Ada
beberapa hal yang dapat membantu korban dalam mengatasi pengalaman dan menahan
efek negatifnya, antara lain (a) menghidupkan kembali harga diri mereka dan tidak
mengingat kembali masa lalu, (b) menyembuhkan dari rasa sakit emosional yang
berat, (c) mengelola lonjakan kemarahan dan agresi yang mereka rasakan, yang
dapat diarahkan tidak hanya untuk orang lain tetapi juga untuk diri mereka
sendiri, (d) mengembalikan rasa memiliki untuk memperkuat perasaan diterima,
dihargai, dan dicintai.
Daftar Pustaka
Ardi, M (2009). Kekerasan pada anak menurut undang-undang
perlindungan anak, Islam dalam tinjauan psikologi dan pengaruhnya dalam
persiapan generasi muslim. Psikologi
perkembangan. Diunduh dari http://www.psychologymania.net/2010/02/kekerasan-pada-anak-menurut-undang.html
Ardi, M. (2012). Dampak bullying bagi siswa. Perilaku bullying. Diunduh dari http://www.psychologymania.com/2012/06/dampak-bullying-bagi-siswa.html
Neufeldt, V. & Guralnik, D. B. (Eds.). (1996). Webster’s
New World. Webster’s new world college dictionary
(3rd ed.). USA: Macmillan.
Pohan, R. N. (2011). Bullying: Who does what, when and
where? Involvement of children, teachers and parents in bullying behavior. Jurnal tentang bullying 1(2), h. 7.
Slavin, R. E. (2012). Educational
psychology: Theory and practices (10th ed.). Upper Saddle River, NJ: Pearson Education.
Ubaydillah, A. N. (2008). Bullying. Anak. Diunduh dari http://www.e-psikologi.com/artikel/anak/bullying
Virgianti, K. (2013, Agustus). Bullying pada Masa Kecil
Dapat Berdampak Pada Masa Bekerja. Sains.
Diunduh dari http://www.satuharapan.com/read-detail/read/bullying-pada-masa-kecil-dapat-berdampak-pada-masa-bekerja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar