Pengaruh
Neglectful Parenting terhadap
Prestasi Anak
Latar Belakang
Prestasi anak yang baik merupakan
hal yang membanggakan bagi orangtua, keluarga, guru, dan terutama diri sendiri.
Prestasi ini ditentukan oleh banyak faktor, seperti cara dan kemampuan belajar,
lingkungan belajar, teman belajar, guru, dan keluarga. Orangtua memiliki peran
penting bagi pendidikan di mana pendidikan yang baik menghasilkan prestasi yang
baik pula bagi anak. Pola asuh yang tepat akan mendorong prestasi anak,
sebaliknya pola asuh yang tidak tepat atau kurang tepat akan mengurangi tingkat
prestasi anak. Artikel ini menjelaskan pengaruh salah satu pola asuh atau parenting yang dapat menurunkan tingkat
prestasi anak, yaitu neglectful parenting.
Pengertian Parenting
Menurut
kamus. “Parenting is the work or skill of a parent in raising a child or
children.” (Webster’s New World College Dictionary, 1996, h. 982). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988; h.
54, 692) yang dikutip dalam Purnomo (2013, bab. 3 para. 2) menjelaskan,
Pola
asuh terdiri dari dua kata yaitu pola dan asuh, pola berarti corak, model,
sistem, cara kerja, bentuk (struktur) yang tetap; sedangkan kata asuh dapat
mempunyai arti menjaga (merawat, mendidik) anak kecil, memberikan bimbingan
(membantu; melatih), dan memimpin (mengepalai, serta menyelenggarakan) satu
badan atau lembaga.
Menurut psikologi. Berns yang dikutip dalam Yayang (2010, para. 1) menjelaskan,
Jerome
Kagan, seorang psikolog perkembangan, mendefinisikan pengasuhan (parenting) sebagai serangkaian keputusan
tentang sosialisasi pada anak, yang mencakup apa yang harus dilakukan oleh
orangtua atau pengasuh agar anak mampu bertanggung jawab dan memberikan
kontribusi sebagai anggota masyarakat termasuk juga apa yang harus dilakukan
orangtua atau pengasuh ketika anak menangis, marah, berbohong, dan tidak
melakukan kewajibannya dengan baik.
Jenis-jenis Parenting
Baumrind,
yang dikutip dalam King (2014) menjelaskan 4 jenis pola asuh yang mendasar,
yaitu: (a) authoritarian parenting, (b)
authoritative parenting, (c) neglectful parenting, dan (d) permissive parenting. Pertama, authoritarian parenting. “A
restrictive, punitive style in which the parents exhorts the child to follow
the parent’s directions.” (King, 2014, h. 308). Pola asuh ini membatasi
perilaku anak memberikan hukuman ketika anak tidak mengikuti petunjuk orang
tua. Penerapan pola asuh ini dapat menyebabkan anak tertekan karena banyaknya
tuntutan orangtua
Kedua,
authoritative parenting. “A
parenting style that encourages the child to be independent but that still
places limits and controls on behavior.” (King, 2014, h. 309). Orangtua
lebih berperan sebagai pendorong dan pengawas anak agar bersikap mandiri,
tetapi masih menempatkan batas dan kontrol pada perilaku anak. Pola asuh ini
dianggap yang terbaik karena ada hubungan timbal balik antara orangtua dan
anak. Pola asuh ini juga bersifat kolaboratif dimana orangtua dapat bekerja sama
dengan baik dengan anak.
Ketiga, neglectful parenting. “A
parenting style characterized by a lack of parental involvement in the child’s
life.” (King, 2014, h. 309). Pola asuh neglectful
merupakan pola asuh di mana orangtua bersikap “masa bodoh” terhadap kehidupan
anaknya. Tidak ada keterlibatan orangtua dalam kegiatan anak. Pola asuh ini
biasanya terjadi karena kesibukan orangtua terhadap karir mereka sehingga tidak
ada waktu untuk anak.
Keempat, permissive parenting. “A
parenting style characterized by the placement of few limits on the child’s
behavior”. (King, 2014, h. 309). Orangtua memberikan kebebasan bagi anak
dalam apapun yang ia inginkan. Orangtua bukannya tidak memberikan perhatian
namun hanya memberikan sedikit batasan bagi perilaku anak. Orangtua biasanya
memberikan pengawasan yang sangat longgar.
Hubungan Parenting terhadap
Prestasi
Kedekatan
orangtua dan anak juga memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar dimana anak
dapat mengalami stres. Hal ini selaras dengan yang dikatakan oleh Maentiningsih
yang dikutip dalam Safitri dan Hidayati (2013),
Ada
hubungan yang bermakna antara secure
attachment dengan motivasi berprestasi pada anak. Secure attachment merupakan hubungan keterikatan antara orangtua
dan anak dalam hubungan yang nyaman dan aman, dan salah satu bentuk depresi
pada anak adalah adanya penurunan prestasi belajar anak. (h. 12)
Orangtua
sangat perlu mengapresiasi prestasi anaknya agar anak mersasa dihargai dan
perujuangannya tidak sia-sia. Menurut KBBI Online (2014) “apresiasi berarti
penilaian atau penghargaan terhadap sesuatu.” Ketika prestasi anak tidak
diapresiasi oleh orangtua, anak akan merasa bahwa ia tidak penting karena salah
satu kebutuhan manusia adalah esteem
atau rasa dihargai. (Maslow, dikutip dalam King, 2014, h. 337). Performa atau
tingkat prestasi sangat bergantung pada penghargaan atau apresiasi dari orang lain
dan yang terawal adalah dari orangtua.
Apresiasi
ini dapat berupa performance appraisal,
“the evaluation of a a person’s success
at meeting his or her organization’s goals” (Grant & Wrzesniewski,
2010; Motowidlo & Kell, 2013; dikutip dalam King, 2014, h. 479). Performance appraisal ini berfungsi untuk
memberikan feedback dan memberikan
perubahan yang cocok dan berarti dalam kegiatan atau pekerjaannya. Cara ini
biasanya dipakai dalam organisasi, namun secara umum fungsi performance appraisal ini dapat
diterapkan pada setiap usia terutama anak dalam prestasinya.
Neglectful parenting dan
Hubungannya dengan Prestasi
Anak
dengan pola asuh neglectful tidak
mendapatkan cukup perhatian dari orangtua. Kurangnya perhatian menyebabkan apresiasi
orangtua terhadap prestasi anak berkurang, bahkan dapat hilang sama sekali.
Tanpa adanya apresiasi anak akan merasa tidak dihargai dan anak akan mengurangi
usahanya dalam belajar dan memperoleh prestasi. Anak akan berpikir tidak ada
gunanya belajar jika hasil kerja kerasnya tidak dihargai sama sekali, motivasi anak
untuk belajar sudah hilang. Santrock, yang dikutip dalam Rohmah (2013, para. 8)
mengatakan,
Orangtua
dengan pola asuh neglectful bisa saja
menganiaya anaknya, menelantarkan anaknya, dan mengabaikan kebutuhan
maupun kesulitan anaknya. Minimnya kehangatan dan pengawasan orangtua membuatnya
terpisah secara emosional dengan anaknya sehingga membuat anak minimal dalam
segala aspek, baik kognisi, bermain, kemampuan emosional, dan sosial termasuk
kedekatan atau kelekatan pada orang lain. Jika terus menerus terjadi akan
membuat anak berkemampuan rendah dalam menolerir frustasi, pengendalian emosi,
perilaku, dan prestasi sekolahnya pun amat buruk. Ia sering kurang matang,
kurang bertanggung jawab, lebih mudah dihasut dan dibujuk teman sebayanya,
serta kurang mampu menimbang posisinya.
Simpulan
Parenting atau pola asuh merupakan seluruh
perlakuan orangtua maupun pengasuh terhadap anak yang diasuh, dimana perlakuan
tersebut diambil oleh keputusan sendiri dan dapat dipertanggungjawabkan. Ada empat
jenis parenting menurut Baumrind yang
dikutip dalam King (2014), yaitu (a) authoritarian
parenting, (b) authoritative
parenting, (c) neglectful parenting, dan
(d) permissive parenting. Pola asuh
dalam kedekatannya pada anak memengaruhi prestasi remaja. Melalui kedekatan
atau attachment orangtua terhadap anak,
ada peningkatan dalam motivasi anak untuk berprestasi. Neglectful parenting dapat mengurangi tingkat prestasi anak karena
minimnya kedekatan orangtua dengan anak. Kurangnya kedekatan orangtua dengan anak
menyebabkan kurangnya apresiasi orangtua terhadap prestasi sehingga anak tidak
lagi termotivasi untuk belajar dan berprestasi.
Daftar Pustaka
Kemdikbud. (2014, April). Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (edisi ke-3). Diunduh dari
http://kbbi.web.id/apresiasi
King, L. A. (2014). The
science of psychology (3rd ed.). New York, NY: McGraw-Hill Education.
Rohmah, F. (2013). Pengaruh orangtua terhadap perkembangan
anak. Pendidikan keluarga. Diunduh
dari http://www.dakwatuna.com/2013/05/25/33792/pengaruh-orang-tua-dalam-perkembangan-anak/#axzz3Ia0jbu6Y
Purnomo, H. (2013, Desember). Pola asuh orang tua dalam
membimbing anak. Diunduh dalam http://www.infodiknas.com/20915-autosave.html
Safitri, Y., & Hidayati, E. (2013, Mei). Hubungan antara
pola asuh orang tua dengan tingkat depresi remaja di SMK 10 November Semarang. Jurnal keperawatan jiwa 1(1), h. 12.
V. Neufeldt, & D. B. Guralnik. (Eds.). (1996). Webster’s New World College Dictionary.
New York, NY: Simon & Schuster Macmillan.
Yayang. (2010, Juni). Pengaruh perilaku orang tua dan pola
kasih sayang terhadap anak pada kedekatan hubungan. Jurnal instruksional psikologi. Diunduh dari
http://yayangy08.student.ipb.ac.id/2010/06/18/pengaruh-perilaku-orang-tua-dan-pola-kasih-sayang-terhadap-anak-pada-kedekatan-hubungan/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar