Rabu, 05 November 2014

Latihan 17 Hendra 705140045

Bullying di Lingkungan Sekolah
Pengertian Bullying
            Bullying menurut kamus Webster’s New World College Dictionary. Bully, menurut kamus Webster’s New World College Dictionary (1996), yaitu a person who hurts, frightens, or tyrannizes over those who are smaller or weaker (h. 184).

            Bullying menurut ahli di KPA. “Bullying adalah kekerasan fisik dan psikologis berjangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan diri dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang atau membuat orang tertekan, trauma/depresi dan tidak berdaya” (KPAI, dikutip dalam Ardi, 2009).

            Bullying menurut psikologi. Olweus, dikutip dalam (Pohan, 2011) mengatakan “Bullying is a specific form of aggressive behavior and can be described as a situation when a student is exposed repeatedly and over time, to negative actions on the part of one or more students” (h. 7).

Bullying menurut psikologi pendidikan. Juvonen, Nishina, & Graham, 2000; Pellegrini & Bartini, 2000; San Antonio & Salzfass, 2007; yang dikutip dalam Slavin (2012) mengatakan bahwa bullying adalah “Taunting, harassment, and aggression toward weaker or friendless peers occur at all age levels, but can become particularly serious as children enter early adolescence” (h. 71).

Minggu, 05 Oktober 2014

Tugas Field Trip: Etos Kerja

Tugas kami pada field trip kali ini adalah untuk mewawancara para pedagang di Kampung Betawi, tepatnya di Setubabakan. Berikut adalah hasil kegiatan dan wawancara kami selama di perumahan Setubabakan.


Eksistensialisme menurut John Paul Sartre

Pemikiran Filsafat Sartre

Manusia mengada dengan kesadaran sebagai dirinya sendiri. Untuk manusia bereksistensi adalah keterbukaan, beda dengan benda lain yang keberadaannya sekaligus berarti esensinya.
Asas pertama untuk memahami manusia adalah kita harus mendekatinya sebagai subjektivitas.

Eksistensialisme Menurut Kierkegaard

Eksistensialisme

Adalah aliran filsafat yang pokok utamanya adalah manusia dan cara berada manusia yang khas di tengah makhluk lainnya. Jiwa eksistensialisme ialah pandangan manusia sebagai eksistensi.
Berasal dari 2 kata, Ex = keluar dan sistensia (sistere) = berdiri.
Manusia bereksistensi berarti manusia baru menemukan diri sebagai aku dengan keluar dari dirinya.
Pusat manusia berada diluar diri manusia.
Hanya manusia yang bereksistensi. Eksistensi tidak sama dengan berada.
Pohon, anjing, dan hewan/tanaman tidak bereksistensi, mereka hanya berada.
Eksistensialisme dari segi isi bukan satu kesatuan, tapi lebih merupakan gaya berfilsafat.
Filsafat harus bertitik tolak pada manusia konkret, manusia sebagai eksistensi, maka bagi manusia eksistensi mendahului esensi

Pengetahuan dan Intelegensi Manusia

Knowledge (Pengetahuan)

Pengetahuan merupakan nilai bagi makhluk yang mempunyainya naik bagi manusia, malaikat, ataupun binatang, pengetahuan adalah suatu kekayaan dan kesempurnaan. Pengetahuan kita adalah sekaligus inderawi dan intelektif. Ia dikatakan inderawi lahir atau luar kalau ia mencapai secara langsung, melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan. Ia dikatakan inderawi batin ketika ia memperlihatkan pada kita, dengan ingatan dan khayalan, baik apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauan kita.